SEJARAH ASAL MULA TARI RASEKSA SALAMREJO
Alkisah hiduplah dua bersaudara yang berada di Desa Salamrejo yaitu Mbah Sirun (35 Tahun) dan Mbah Unus (33 Tahun). (Mereka merupakan sesepuh Desa atau orang yang mempunyai kebatinan kuat tentang ilmu supranatural.
Sekitar kurang lebih pada tahun 1942 pada masa penjajahan Jepang, Masyarakat Indonesia sangatlah tersiksa dikarenakan Masyarakat Indonesia dibohongi, di kerja paksakan, bahkan siapapun yang di romusakan harus tinggal nama, atau di bunuh supaya penjajah Jepang lebih leuasa menguasai Bumi Pertiwi.
Ketika Mbah Sirun dan Mbah Unus tau tentang perihal itu lantas mereka bersemedi dengan heningnya untuk meminta kepada Sang Hyang Agung agar supaya mereka dan seluruh Masyarakat Salamrejo khususnya diberi keselamatan di hindarkan dari marabahaya , dan supaya penjajah jepang bisa pergi dari Indonesia sehingga kita bisa Merdeka. Lalu di tengah heningnya malam Ketika mereka meditasi menyatukan hati dan pikiran,mereka tiba-tiba melihat begitu banyaknya orang yang bermacam-macam rupa sesosok tinggi besar seperti rasekso. Ketika itu Mbah Sirun dan Mbah Unus terdiam dan berfikir apa maksud dari penampakan hal-hal tersebut.
Mbah Sirun sendiri adalah sesorang yang mempunyai jiwa seni, orangnya ramah, sabar, beliau juga sering mengungkapkan isi hatinya melalui gamelan, Tarian, nyanyian bahkan beliau sering menggambar di tembok rumahnya yang terbuat dari bambu dengan menggunakan arang atau alat seadanya dengan gambar-gambar beraneka ragam yang begitu indah.
Sedangkan Mbah Unus yang mempunyai sifat pendiam tapi keras Ketika ada orang yang menyalahi atau ingin berbuat jelek kepadanya atau dengan orang-orang terdekatnya, nyawapun di pertaruhkan. Tapi begitu juga sebaliknya jika orang berbuat baik kepadanya maka beliau akan melebihi kebaikan itu.
Tibalah pada saatnya pada kurang lebih tahun 1943 masyarakat Desa Salamrejo diseret tentara jepang untuk di kerja paksakan di laut selatan untuk membendung lautan. Padahal tujuan utamanya itu tidak untuk membendung melainkan untuk dibunuh. Pada waktu itu Masyarakat Desa Salamrejo sangatlah ketakutan banyak yang bicara kepada Mbah Sirun dan Mbah Unus karena beliau-beliau adalah sesepuh Desa, mereka mengadu dengan bagaimana nasib mereka nanti. Lalu dijawablah “ ILINGO MARANG GUSTI MU, SUPOYO KABEH BISO URIP SLAMET LAN DI DOHNOSOKO MOLO PETOKO “. Karena
Mbah Sirun dan Mbah Unus merasa yakin bahwa semua akan baik – baik saja. Memang benar, Ketika kita sering menyatu dengan semesta maka disitulah Tuhan akan selalu peduli dan melindungi umatnya.
Dan pada akhirnya mereka sampailah di laut selatan, mereka melihat banyak orang disiksa oleh tentara jepang untuk mebendung lautan. Banyak dari orang-orangh tersebut yang gugur dalam kerja paksa tentara jepang tersebut. Lalu entah mukjijat apa yang di hidayahkan Tuhan kepada Mbah Sirun dan Mbah Unus, tiba-tiba tanpa disadari mereka dan beberapa warga Masyarakat Salamrejo bisa selamat saat tentara jepang memaksa untuk membendung lautan. mereka merasakan ada hal aneh Ketika dilautan, tapi mereka merasa seperti di daratan. Pada saat itu juga Mbah Sirun dan Mbah Unus ditemui tiga sosok makhluk astral yang tinggi besar mempunya bola mata merah tajam dan taring yang Panjang yang berhati mulia. Karena tiga sosok tersebutlah yang membantu orang-orang tersebut atas kehendak Yang Kuasa. Ketiga sosok tersebut adalah Mbah Senen, Jonduwo, dan Joklewo. Yang mana ketiganya mempunyai karakter sendiri-sendiri. Ada yang berwibawa, ada yang usil dan ada yang amarahnya sangat-sangatlah besar. akhirnya Mbah Sirun dan Mbah Unus berfikir dan bertanya-tanya apakah kesemuanya ini ada hubunganya Ketika mereka berdua bersemedi di saat sebelum mereka diseret tentara jepang ke laut selatan. Lalu Mbah Sirun dan Mbah Unus berdialog dengan ketiga sosok tersebut, mengucapkan terimakasih atas bantuan kepada mereka berdua dan masyarakat Desa Salamrejo yang selamat akan romusa jepang.
Ketika Mbah SIrun, MbaH Unus, dan Masyarakat Salamrejo dalam perjalanan pulang mereka melewati hutan belantara banyak hewan-hewan buas serta tergolong hutan yang angker. Kedua Bersaudara itu ( Mbah Sirun dan Mbah Unus ) melihat begitu banyaknya gerombolan manusia atau dalam bahasa jawanya bisa disebut wong sak ndayak berkumpul. Entah itu manusia sungguhan atau bukan, yang jelas disitu mereka melakukan suatu tarian khas yang begitu unik dan menarik. Kemudian sosok ksatria
yaitu Mbah Senin, Jonduwo, Joglewo itu muncul lalu berkata pada Mbah Sirun dan Mbah unus “ GOWONEN, URI-URINEN, MBESOK YEN ONO REJANE JAMAN DESOMU BAKAL ONO SEJARAH LAN BAKAL TERUS NGEMBAN ONO ING DESO MU UGON NJOGO SUPOYO DESO MU AYEM TENTREM. IKI KABEH KERONO SAKING TITIPANE LELUHOR LAN RESTUNIPUN GUSTI KANG MOHO AGUNG ”. Dan akhirnya
Tarian tersebut di bawa pulang oleh Mbah Sirun dan Mbah Unus ke Desa Salamrejo yang pada waktu itu Tahun 1945. Tarian itu mulai diajarkan pada sebagian kecil Masyarakat yang mana hanya ada sepuluh sampai dua puluh orang saja. Mbah Sirun pada waktu itu sebagai pencetus gamelan yang dipakai pada Tarian itu berupa kendang, tiga kentongan dan jedor. Lalu Mbah Unus sebagai Empu atau sesepuh yang mengendalikan Tarian. Serta ada Mbah Gombong beliau adalah masyarakat yang pada masa itu dijadika sebagai ratu atau pimpinan pasukan yang diembani oleh tiga kesatria Mbah Senen, Jonduwo dan Joklewo. Seiring berjalanya waktu akhirnya Tarian tersebut banyak di minati oleh Masyarakat Salamrejo, karena walaupun perwujudan Tarian tersebut adalah seperti halnya sosok Buto namun sangat berhati mulia yang suka menolong sesama. Dan akhirnya Tarian tersebut dinamai TARI RASEKSA SALAMREJO yang mana dalam Tarian tersebut ada peran seorang ratu dua orang patih dan ratusan bahkan ribuan prajurit .Dan diakui dijadikan sebagai Tarian Khas Adat Desa Salamrejo serta di uri-uri sampai saat ini.



